TRENDING
PajakOnline
BerandaBerita Pajak
Kalkulator PajakHubungi KamiKebijakan Privasi
← Semua beritaBerita

Perlakuan Pajak Atas Komisi

Redaksi PajakOnline · 3 Jul 2023, 08.00 WIB

PajakOnline.com—Komisi merupakan pendapatan tambahan atau upah atas terjualnya sebuah produk. Tak hanya itu, komisi juga diartikan sebagai penghargaan berupa penghasilan tambahan karena telah mencapai atau melampaui penjualan yang ditargetkan.

Komisi yang dimaksud ialah imbalan kepada karyawan atas performa kerja atau saat melakukan penjualan produk. Biasanya komisi yang didapatkan atas dasar persentase gaji karyawan dan bisa juga pada laba yang dihasilkan. Komisi ini pun tentunya juga dikenakan pajak.

Sama halnya dengan dunia perpajakan, komisi dikaitkan dengan seorang yang berperan sebagai perantara dalam mempertemukan penjual dengan pembeli. Dengan begitu, seorang perantara tersebut akan mendapatkan upah atau penghasilan tambahan lewat komisi terhadap transaksi yang telah terjadi, di mana komisi tersebut berpengaruh dalam menambah penghasilan.

Komisi penjualan baik yang didapatkan, baik sewaktu-waktu maupun yang didapatkan secara rutin kepada wajib pajak orang pribadi tentunya dapat dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan Pajak Penghasilan Pasal 23, atau PP Nomor 23 Tahun 2018.

Berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 perihal Pajak Penghasilan (PPh) Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Peraturan tersebut seringkali menjadi dasar perhitungan pajak komisi atas penjualan.

Tetapi, peraturan tersebut memiliki beberapa persyaratan dalam pemakaiannya sebagai dasar perhitungan, antara lain :


Adapun beberapa aspek pajak atas komisi penjualan baik secara wajib pajak pribadi maupun dalam bentuk badan usaha, yakni:

1. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Atas Komisi
PPh pasal 21 kerap kali digunakan sebagai sebuah dasar perhitungan pajak komisi atas penjualan. Pajak tersebut dikenakan atas transaksi yang terjadi antara penjual dengan pembeli melalui jasa seorang perantara, yang mana jasa seorang perantara tersebut diberikan komisi atau upah sebagai penghasilan tambahan.

Dalam hal ini terdapat poin-poin penting yang perlu diperhatikan, yakni :


Adapun, perhitungan tarif untuk PPh Pasal 21 atas komisi untuk bukan pegawai, baik berkesinambungan maupun tidak berkesinambungan, berikut rinciannya :

2. PPh Pasal 23 Atas Komisi
Pengenaan pajak pada pasal 23 ini juga dikenakan atas transaksi yang terjadi antara penjual dengan pembeli melalui jasa seorang perantara, yang mana jasa seorang perantara tersebut diberikan komisi atau upah sebagai penghasilan tambahan.

Dalam hal ini terdapat poin-poin penting yang perlu diperhatikan, yakni :


3. PP Nomor 23 Tahun 2018
Pajak komisi ini juga dikenakan dalam peraturan berdasarkan PP Nomor 23 Tahun 2018 dimana diserahkan oleh wajib pajak dengan status atau berbentuk badan. Berbeda dengan wajib pajak pribadi yang tidak menggunakan peraturan ini. Berdasarkan ketentuan pada peraturan ini, tarif yang dikenakan sebesar 0,5% dengan penghasilan bruto yang tidak melebihi Rp 4,8 Milyar dalam satu tahun pajak.

Dalam ketiga apsek tersebut, sebenarnya memiliki kesamaan dalam hal pengenaan pajak, yakni pada imbalan atau komisi yang didapatkan. Namun perbedaan yang terlihat cukup jelas pada pemberi imbalan atau komisi tersebut kepada pihak perantaranya, apakah pihak pemotong berbentuk sebagai pribadi atau badan. (Azzahra Choirrun Nissa)